Kondisi Kesehatan di Papua Disebut Tak Berubah 20 Tahun Terakhir

Sekretariat untuk Keadilan, Perdamaian dan Integritas Ciptaan Franciscan Papua (SKPKC FP) mengatakan bahwa situasi kesehatan di Papua belum mengalami perubahan signifikan dalam 20 tahun terakhir. Ini diketahui dari laporan Memoria Passionis (Memories of Suffering), yang telah menyentuh edisi ke-37 sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1999. Dalam seri memoria passionis dari seri pertama hingga seri tujuh puluh tujuh, menariknya, situasi kesehatan memiliki tidak berubah. Jadi masih ada kasus malnutrisi dari seri pertama dari 1999 hingga 2019 lalu, kata direktur FP SKPKC Yuliana Languwuyo dari Palmerah.

Laporan Memoria Passionis edisi ke-37 sendiri memuat sejarah kelam hak asasi manusia di Papua pada tahun 2018. Laporan pertama adalah masalah kekurangan gizi dan campak di Asmat pada tahun 2018. Setidaknya 71 orang tewas dalam tragedi itu. Angka tersebut berdasarkan data dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agate pada September 2017 – Januari 2018. Insiden itu bukan yang pertama. Pada tahun 2006 ada juga wabah campak di Kampung Ayan, Kampung Warse dan Kampung Pau di luar. Pada tahun 2005 ada juga peristiwa luar biasa di mana 25 balita meninggal. Yuliana menjelaskan bahwa pemerintah sejauh ini telah menangani masalah kesehatan Papua terkait dengan infrastruktur.

Ini berarti bahwa pemerintah hanya membangun kumis atau rumah sakit, tetapi tidak menjamin bahwa layanan akan berlanjut. “Apakah staf medis memiliki Puskesma? Memiliki obat dari Puskesma. Tidak diawasi dan [pemerintah] lalai dalam hal ini,” kata Yuliana. Sementara di sisi lain pemerintah telah menyetor banyak uang dalam perawatan kesehatan. Misalnya, pemerintah Kabupaten Asmat telah menganggarkan setidaknya Rp 1 triliun untuk sektor kesehatan, belum lagi dana otonomi khusus, yang mencapai Rp 106 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *